Menggunakan AI itu sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya
Terpapar 24/7 mengenai beragam konten AI, dari yang mulai orang iseng membuat karikatur dirinya sampai dengan orang yang menulis panjang di Twitter mengenai beragam AI, sedikit banyak jengah sih. Seringkali ingin me-reset ulang algoritma dan biarkan timeline saya berisi sesuatu yang tidak penting. Entahlah, mungkin seperti orang laporan bangun tidur, orang yang kebelet berak, atau apa pun yang sejenisnya.
Kejengahan ini karena perdebatan atau diskusi AI ini sering kali melibatkan dua kutub yang berbeda: satu yang AI is BAD, pengguna AI adalah serendah-rendahnya manusia. Di lain pihak, pengguna AI hardcore lebih senang mengejek tanpa arah terhadap yang anti AI. Saya kira yang seperti itu orang Indo doang sebagai coping mechanism marah-marah karena negara begajulan, tapi sepertinya ini gejala umum.
Saat ini, karena sering kali terpapar konten AI atau mengenai AI, ada beberapa hal yang saya perhatikan.
Salesman
Jika ada twit promo AI, muji AI yang cukup berlebihan, ditambah sedikit fear mongering, saya biasanya lihat dulu background penulis. Sialnya ketika saya cek orang di balik akun itu banyak yang bekerja di perusahaan AI, perusahaan wrapper AI, atau mereka yang ada kepentingan usaha atau uang. Ketika melihat fakta tersebut, ya segala opininya harus sedikit diberi keraguan bahwa mereka tidak lebih dari seorang salesman yang berusaha menjual produk.
Denial
Selain salesman seperti di atas, beberapa orang anti AI (terutama GEN AI di perkodingan) masih banyak yang denial bahwa model AI terbaru masih sangat goblok untuk mengerjakan "production grade" coding. Ini mungkin bias, tapi karena mayoritas kerjaan saya sebagai "CRUD Engineer", model terbaru sudah lebih dari cukup untuk handle perkara CRUD ini. Mungkin untuk yang jauh lebih low level bisa saja masih "slop", tapi ya nggak bisa dipungkiri juga perkembangan dari mesin "auto complete" jadi anak intern yang bisa nulis secara cepat.
AI Guru
Pernah tidak kalian menemukan orang yang selalu menggurui? "Lu tuh pakenya salah!", "2026 masih kaya gitu? Pantesan lu kalah, orang lain udah XYZ, lu masih ABC". Kelakuan kaya gini emang bukan di era AI doang sih, di banyak hal juga seperti ini. Tapi ya mungkin emang skill issue, atau mungkin setiap individu punya pola kerja yang cocok bagi mereka sebagai penunjang produktivitas.
[Feeling] Productive
Perkembangan AI yang sangat cepat ini mirip dengan perkembangan bahasa pemrograman dan alat-alat di sekitarnya. Karena perubahan begitu cepat, kebutuhan mempelajari secepat mungkin menjadi seperti keharusan. Lalu banyak orang berakhir menonton tutorial, hanya berkutat di sana atau biasa disebut tutorial hell. Ada satu yang menurut saya berbahaya dari tutorial hell ini: menonton beragam tutorial membuat ada perasaan telah menjadi orang yang produktif, padahal belum tentu. Yang kita lakukan ya baru sekadar nonton. Betul bahwa ada informasi baru yang masuk dan kita belajar sesuatu, tapi ketika loncat dari tutorial ke tutorial lainnya, saya rasa kita perlu mendefinisikan lagi definisi produktif. Perasaan menjadi produktif ini juga saya rasakan ketika bermain dengan AI agent dan sejenisnya: mencoba model baru, tools baru, generate kode yang sama yang saya rasa cukup menjadi benchmark, ganti model, ganti tools, generate kode yang serupa yang saya rasa cukup menjadi benchmark, ganti model lagi... see?
To be fair, AI memang sangat membantu. Saya menggunakannya untuk sehari-hari dan di pekerjaan. Tapi ayolah rehat sejenak, jangan takut ketinggalan. Ketinggalan itu kalau tujuannya sama. Kalau beda tujuan kan yang satu sudah cukup, dan silakan jika yang lain hendak melanjutkan perjalanannya.
Judul terinspirasi dari quote Pram: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.”